Kesehatan

Hingga Mei 2021, Terdata 125 Kasus TBC di Kabupaten Sanggau

SANGGAU, TimeBorneo.com - Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Sanggau, Kalbar, Sarimin Sitepu mengatakan jumlah pengidap tuberkulosis atau TBC di Kabupaten Sanggau mengalami penurunan sejak tiga tahun terakhir.

“Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Sanggau, pada tahun 2018 ditemukan 858 kasus, 2019 sebanyak 843 kasus dan 2020 sebanyak 643 kasus, Tahun 2016 terdapat 617 kasus TBC dan naik menjadi 815 kasus pada tahun 2017. Kemudian pada tahun 2018 terdapat 858 kasus, turun pada tahun 2019 menjadi 843 kasus dan turun lagi pada tahun 2020 menjadi 643 kasus,” ujarnya, Jumat (21/5/2021).

Disampaikan Sarimin turunnya angka pengidap TBC tiga tahun terakhir karena sumber penularannya sudah ditemukan.

“Kalau dilihat dari trennya memang sudah kita temukan sumber penularnya dan diobati sampai sembuh, sehingga tidak menularkan lagi. Di samping itu kepatuhan minum obat sangat baik, sehingga tujuan akhir kita adalah eliminasi penyakit TBC ini,” kata Sarimin.

Sarimin juga mengungkapkan selama ini metode yang dilakukan pihaknya adalah pelacakan kontak. Apabila sudah ditemukan satu pengidap TBC, maka keluarga serumah akan diperiksa, termasuk tetangganya yang sering berinteraksi.

“Dalam pelacakan kontak kita juga bekerja sama dengan TB Care Aisyiyah Sanggau . Diperiode Januari hingga Mei tahun 2021 ini, ditemukan 125 pengidap TBC,”katanya.
Diungkapkan Sarimin sebarannya di semua kecamatan yang ada di Kabupaten Sanggau.

“Proses pengobatannya selama enam bulan dan tidak boleh putus obat,” terang Sarimin.

Ia juga memastikan tidak ada masalah terkait pelayanan bagi pengidap TBC di masa pandemi Covid-19.

“Pelayanan TBC atau yang berobat di layanan kesehatan pada masa pandemi Covid-19 tidak terganggu. Kita merubah sistem yang tadinya kita berikan obat sekali seminggu, di masa pandemi ini kita berikan obat untuk satu bulan,”jelasnya.

Selama proses penyembuhan, ia mengingatkan penderita TBC tidak boleh putus obat. Pasalnya, jika putus obat, risikonya adalah resisten terhadap obat yang disebut multidrug resistant (MDR).

“Untuk stok obat tidak ada masalah, karena kita tinggal mengusulkan ke Dinas Kesehatan provinsi sesuai kebutuhan. Pencegahannya, tutup mulut saat batuk atau bersin, jangan meludah atau membuang dahak sembarangan, mengurangi interaksi sosial, biarkan sinar matahari masuk ke dalam ruangan dan berperilaku hidup bersih dan sehat,” tutup Sarimin.

Komentar

Loading...