Banjir

Pasca Banjir Terjang Desa Lampuyang, Swasembada Pangan di Kotim Terancam Gagal

Air sungai yang meluap bercampur curah hujan yang tinggi pada Kamis 20 Mei 2021 lalu membuat areal persawahan dan pertanian di Wilayah Desa Lempuyang Kecamatan Teluk Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur rusak parah sebagian besar padi yang ditanami terendam banjir selutut orang dewasa.

SAMPIT, TimeBorneo.com - Tercatat sekitar 3.500 hektare areal Persawahan dan Pertanian yang berada di Kecamatan Teluk Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur rusak berat usai diterjang banjir akibatnya harapan besar terhadap Swasembada pangan di Kotim terancam gagal total.

Air sungai yang meluap bercampur curah hujan yang tinggi pada Kamis 20 Mei 2021 lalu membuat areal persawahan dan pertanian di Wilayah Desa Lempuyang Kecamatan Teluk Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur rusak parah sebagian besar padi yang ditanami terendam banjir selutut orang dewasa.

Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur, H. Rudianur mengatakan harapan besar terhadap Swasembada Pangan Tahun 2021 ini nampaknya tidak berjalan mulus karena adanya musibah banjir yang tidak dapat di prediksi sebelumnya.

“Sebelum air sungai meluap dan curah hujan yang cukup tinggi, tercatat sedikitnya sekitar 3500 hektare lahan persawahan padi milik petani belum sempat dipanen, sehingga harus mengalami kerusakan yang cukup parah alhasil petani kita merugi,” kata Rudianur, Rabu (26/5/2021) seperti diberikana Kaltengtoday.com [Jaringan TimeBorneo.com].

Menurutnya, pemerintah daerah saat ini jangan hanya terfokus kepada penanganan banjir namun juga harus memikirkan bantuan kepada para petani yang sudah mengalami kerugian yang cukup besar akibat musibah ini.

“Akibat musibah ini swasembada pangan kita di kotim sudah bisa dipastikan gagal total, selain itu petani merugi karena itu saya berharap pemkab sudah memikirkan solusi yang baik untuk memberikan bantuan-bantuan bagi para petani,” jelasnya.

Terpisah Kepala Desa Lampuyang, Muksin menjelaskan, ada sekitar 7.500 hektare padi yang ditanam petani di desa itu. Dari jumlah tersebut, sekitar 3.500 hektare belum sempat dipanen hingga terendam banjir.

“Satu hektare menghasilkan tiga sampai empat ton gabah kering panen dengan harga saat ini Rp6.000 perkilogram. Kalau dihitung-hitung, kerugian petani sekitar Rp5 miliar,” kata Muksin.

Muksin mengatakan, pihaknya mendukung langkah pemerintah daerah akan membenahi saluran yang ada, terutama di samping jalan provinsi. Begitu juga saluran primer dan sekunder lahan pertanian diharapkan segera dibenahi karena ini sudah lama diharapkan petani agar aliran air menjadi lancar sehingga tidak banjir lagi.

Dia menyebutkan, setiap tahun hasil panen padi di desa itu menurun, diperkirakan karena pengaruh sistem pengairan dan serangan hama. Saat terendam banjir lebih dua hari, padi dipastikan rusak sehingga gagal dipanen.

“Kami harapkan tiga sungai juga harus dinormalisasi karena terakhir dikeruk pada 2006 sehingga dangkal sehingga aliran tidak lancar. Banjir parah seperti ini terakhir terjadi pada 2013 lalu,”harap Muksin.

Komentar

Loading...