Budaya

Mohon Keselamatan, Warga Desa Parahangan Ritual Mampakanan Sahur Lewu

PALANGKA RAYA, TimeBorneo.com - Kepala Desa Parahangan Agus Yulianto, menceritakan
ritual adat Mampakanan Sahur Lewu telah di gelar sejak 8 hingga 10 Oktober 2021, seperti diberitakan dalam Kaltengtoday.com [jaringan TimeBorneo.com].

Sahur Lewu dimulai pada sore hari, Jumat (8/10/2021) di Rumah Ibadah Kaharingan Desa Parahangan. Empat orang pemimpin ritual atau basir duduk di depan altar sambil mengucapkan mantra dan doa secara bersahutan diiringi tetabuhan ritmik katambung, sebuah alat musik sejenis gendang yang terbuat dari kulit biawak.
Beraneka ragam sesaji terhidang di hadapan para basir.

Usai mantra-mantra pembuka, satu per satu warga mendatangi basir di depan altar menyematkan secarik kain doa di lengan basir sambil menyampaikan harapan-harapannya. Pada malam harinya, ritual dilanjutkan dengan pawai di sepanjang jalan desa dan di tepian Sungai Kahayan dipimpin oleh para basir. Ritual ini disebut mamapas lewu, yang merupakan bagian dari sahur lewu.

Setelah itu, rombongan berhenti sejenak di tepi Sungai Kahayan untuk menggelar doa dan melarung beberapa simbol ritus ke sungai. Ritual ini digelar sebagai permohonan keselamatan agar dijauhkan dari malapetaka, bencana, wabah, sekaligus memperkuat hubungan manusia dan alam.

“Spirit yang dihadirkan ritual sahur lewu ini sejalan dengan program pendampingan masyarakat yang dilaksanakan oleh BNF di Desa Parahangan. Kami mendampingi masyarakat mengelola hutan desanya agar lestari dan terjaga, serta dapat menjalankan kegiatan ekonomi produktif yang selaras dengan prinsip keberlanjutan,” tutur Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Borneo Nature Foundation (BNF) Indonesia, Yuliana Nona.

Komentar

Loading...