Peristiwa

Solidaridad: Membawa Perubahan

SINTANG, TimeBorneo.com - Di era keterbukaan seperti sekarang ini, semua hal dapat diketahui oleh publik dan semua orang dapat ambil bagian dalam proses pembangunan. Demikian terjadi di Sintang dalam beberapa tahun terakhir.

Upaya open government yang terus digalakkan oleh pemerintah daerah menjadi lahan subur untuk optimalisasi peran lembaga non pemerintah (NGO) dalam berbagai bidang.
Salah satunya Solidaridad Indonesia.

Dengan visinya change that matter lembaga yang telah berpengalaman dalam inisiasi pembangunan ekonomi berkelanjutan lebih dari 50 tahun itu mulai masuk ke Sintang sejak tahun 2017 dengan membantu para petani kelapa sawit mandiri untuk menjadi petani yang lebih profesional.

Kini lembaga yang sudah ada di Indonesia sejak 2012 itu pun mengembangkan berbagai invoasi layanannya,mulai dari inisiatif perubahan iklim dengan pengadaan air bersih siap konsumsi dari hidropanel source hingga melakukan studi kolaboratif tentang dampak pandemic covid-19 terhadap perempuan dalam program inklusivitas gender.

“Di Sintang kami juga sedang mencoba untuk mengembangkan perkebunan teh. Saat ini masih dalam tahap inkubasi, kami sedang mengawasi uji coba pertumbuhan tanaman dibeberapa desa,” ungkap Billy Haspi selaku Manajer Program Solidaridad Indonesia di Sintang dan sekitarnya dalam kegiatan media gathering beberapa waktu lalu.

Pada kesempatan tersebut, Suksma Ratri selaku Senior Komunikasi Solidaridad Indonesia menyampaikan rencana-rencan pengembangan kegiatan yang akan dilakukan oleh timnya untuk tahun 2022.

“Kita masih akan berkerja bersama para petani sawit mandiri binaan untuk mencapai ISPO dan RSPO sehingga mereka semua menjadi petani sawit lestari yang menjalankan praktik pertanian terbaik yang berkelanjutan sesuai dengan daya dukung lingkungan. Selain itu kita juga akan melakukan berbagai kegiatan pada area konservasi dan advokasi di Sintang, Kapuas Hulu, Melawi dan Sekadau,” ungkap Ratri.

Khusus di tahun 2022, Ratri mengaku pihaknya akan mengadakan Festival pekebun lestari di 11 kabupaten kota di area kerja mereka. Masing-masing kabupaten akan mengusulkan 2 orang petaninya, lalu pemenang akan dilatih dan didik di Pusat Penelitan Kelapa Sawit di Medan. Ratri berharap nantinya pemenang berasal dari Sintang, jadi di Sintang nanti akan ada petani penangkar bibit resmi.

Komentar

Loading...